macam macam informasi
Minggu, 01 Juli 2012
Senin, 25 Juni 2012
"Gantikan Mou, Loew Bakal Hebat!"
KIEV, KOMPAS.com — Nama Pelatih Tim Nasional Jerman, Joachim Loew, dikait-kaitkan dengan juara La Liga, Real Madrid, setelah Pelatih Timnas Spanyol, Vicente Del Bosque, menyebut bahwa pelatih berusia 52 tahun itu layak untuk melatih Madrid maupun Barcelona. Kabar ini pun segera disambut baik oleh Mesut Oezil, anak asuh Loew di timnas Jerman serta gelandang andalan Madrid.
Seperti dilansir Goal.com, Oezil menilai Loew bakal menjadi pelatih hebat di Santiago Bernabeu jika Jose Mourinho, pelatih Madrid sekarang, memutuskan hengkang. Menurutnya, Loew memiliki kemampuan yang hampir sama dengan Mou.
"Dia (Loew) adalah salah satu pelatih terbaik di dunia. Mampukah dia menjadi pelatih Real Madrid? Tentu saja, mengapa tidak? Dia punya kemampuan untuk melakukannya," ungkap pemain berusia 23 tahun ini.
Awal pekan lalu, Bosque memuji kinerja Loew dalam membawa Jerman terus berjaya di kancah internasional. Menurutnya, Loew berhasil membentuk permainan timnas Jerman yang dinilainya memainkan sepak bola dalam level tinggi dengan semangat yang istimewa pula.
"Dia (Loew) merupakan pria elegan yang merepresentasikan negaranya dengan sangat baik. Dia melakukan pekerjaannya di klub dan level internasional. Real Madrid dan Barcelona tentu saja tidak terlalu besar untuknya," tutur Del Bosque.
Sementara itu, Oezil juga membantah adanya niat untuk hengkang dari Real Madrid. Dia masih merasa bahagia bermain bersama jawara Liga BBVA Spanyol tersebut.
"Saya masih punya kontrak hingga 2016. Saya sangat mencintai kota Madrid. Saya cocok dengan cuacanya dan saya punya banyak teman. Saya bahagia di situ," ungkap pemain berusia 23 tahun itu.
Seperti dilansir Goal.com, Oezil menilai Loew bakal menjadi pelatih hebat di Santiago Bernabeu jika Jose Mourinho, pelatih Madrid sekarang, memutuskan hengkang. Menurutnya, Loew memiliki kemampuan yang hampir sama dengan Mou.
"Dia (Loew) adalah salah satu pelatih terbaik di dunia. Mampukah dia menjadi pelatih Real Madrid? Tentu saja, mengapa tidak? Dia punya kemampuan untuk melakukannya," ungkap pemain berusia 23 tahun ini.
Awal pekan lalu, Bosque memuji kinerja Loew dalam membawa Jerman terus berjaya di kancah internasional. Menurutnya, Loew berhasil membentuk permainan timnas Jerman yang dinilainya memainkan sepak bola dalam level tinggi dengan semangat yang istimewa pula.
"Dia (Loew) merupakan pria elegan yang merepresentasikan negaranya dengan sangat baik. Dia melakukan pekerjaannya di klub dan level internasional. Real Madrid dan Barcelona tentu saja tidak terlalu besar untuknya," tutur Del Bosque.
Sementara itu, Oezil juga membantah adanya niat untuk hengkang dari Real Madrid. Dia masih merasa bahagia bermain bersama jawara Liga BBVA Spanyol tersebut.
"Saya masih punya kontrak hingga 2016. Saya sangat mencintai kota Madrid. Saya cocok dengan cuacanya dan saya punya banyak teman. Saya bahagia di situ," ungkap pemain berusia 23 tahun itu.
Penalti "Cucchiaio", Inspirasi Pirlo dari Totti
Rekan Totti, Daniele De Rossi, yang mengingatkan penalti "sendok" tersebut kepada Football Italia.
"Malam yang akan selalu dikenang. Tendangan Pirlo mengingatkanku pada gol Totti 12 tahun yang lalu. Pirlo mencetak gol penalti dengan luar biasa," sanjung De Rossi.
Dalam pertandingan itu, De Rossi nyaris membuka gol "La Nazionale" di awal pertandingan. Sayang, sepakannya dari jarak 30 meter hanya menghantam tiang gawang "The Three Lions".
"Ketika tembakanku mengenai tiang, aku sempat berburuk sangka. Tapi, aku tak mau (menceritakannya dan) mengubah indahnya malam ini," ungkap De Rossi.
Sayang, gelandang yang dapat berfungsi sebagai bek tengah itu harus terkapar di babak kedua. Kiprah De Rossi berakhir pada menit ke-80 ketika digantikan Antonio Nocerino.
"Aku punya problem sciatica dalam beberapa hari ini, sementara es dan obat pemati rasa sudah tak bekerja maksimal lagi. Cedera itu membuat Anda tak bisa berlari atau berakselerasi. Aku kecewa dengan cedera itu dan harapannya akan membaik sebelum semifinal," keluhnya.
"Aku punya problem sciatica dalam beberapa hari ini, sementara es dan obat pemati rasa sudah tak bekerja maksimal lagi. Cedera itu membuat Anda tak bisa berlari atau berakselerasi. Aku kecewa dengan cedera itu dan harapannya akan membaik sebelum semifinal," keluhnya.
Takdir "Tiga Singa" Ditentukan 8 Tahun Lalu
KYIV, KOMPAS.com — Sejarah memang memihak Italia. Sisi historis juga yang membuat Inggris terlempar dari Euro 2012. Benarkah takdir "The Three Lions" sudah ditentukan delapan tahun lalu?
* Sejarah terulang. Delapan tahun lalu Inggris juga disingkirkan Portugal pada perempat final Euro 2004.
* Italia akan menghadapi Jerman di semifinal Euro 2012. "Gli Azzurri" tak pernah kalah dari tim "Panser" di putaran final Piala Dunia atau Piala Eropa.
* Dari delapan adu penalti Italia sepanjang sejarah, "La Nazionale sudah memenangi tiga kali, yakni mengalahkan Belanda (semifinal Euro 2000), melipat Perancis (final Piala Dunia 2006), dan tentu menyikat Inggris (perempat final Euro 2012).
* Dari tujuh adu penalti, Inggris baru sekali menang, yakni saat membekap Spanyol di perempat final Euro 1996.
* Sepanjang sejarah Piala Eropa, sudah 28 pertandingan melaju hingga perpanjangan waktu dan 14 di antaranya diakhiri dengan adu penalti plus satu laga dipungkasi dengan undian lempar koin.
* Untuk pertama kalinya sebuah laga Euro 2012 berakhir tanpa gol pada waktu normal dan perpanjangan waktu. Tak heran kalau melibatkan Italia karena negara itu memimpin untuk kategori pengemas laga imbang terbanyak. Sepanjang sejarah Euro, "La Nazionale" meraih delapan hasil imbang.
* Italia hanya mampu mencetak 31 gol dari 31 pertandingan Piala Eropa. Itu rerata gol terendah untuk negara yang minimal sudah menjalani 20 pertandingan putaran final Euro.
* Italia tak pernah kebobolan dalam tiga perempat final yang sudah dijalani, yakni pada Euro 2000 (menang 2-0 atas Rumania, Euro 2008 (menahan imbang Spanyol 0-0), dan juga Euro 2000 (menahan imbang Inggris 0-0).
*Dari sembilan perempat final yang dijalani Inggris di luar negaranya, mereka baru sekali meraih kemenangan, yakni pada Piala Dunia 1990 saat mengandaskan Kamerun 3-2 dalam babak perpanjangan.
* Italia tak terkalahkan dalam 14 pertandingan kompetitif selama ditangani Pelatih Cesare Prandelli dan mengemas sembilan kemenangan plus lima kali imbang. Bukti pertahanan Italia memang keren adalah fakta bahwa gawang mereka tak pernah bobol dalam 10 pertandingan di antaranya.Secuil "Kenakalan" Pemain Bintang
KOMPAS.com - Mewawancarai pemain bintang tak selamanya menyenangkan. Selain harus bersabar menunggu waktu kesempatan wawancara, awak media juga harus bersiap-siap mendapat jawaban ketus atau mengelus dada melihat polah pemain bintang itu.
Seperti yang dialami belasan jurnalis peliput Piala Eropa, termasuk wartawan Kompas, Agung Setyahadi, ketika menunggu para pemain tim nasional Italia yang baru saja menyelesaikan latihan resmi, sehari menjelang laga perempat final melawan Inggris di mixed zone, Stadion Olimpiade Kiev, Ukraina, Sabtu (23/6). Mixed zone adalah area yang disediakan bagi para peliput bertemu atlet.
Setelah menunggu lebih dari 30 menit dari jadwal wawancara, para jurnalis melihat sosok striker muda Italia, Mario Balotelli, yang mengenakan kaus hitam berlengan buntung dan membawa tas kecil di tangan kanannya.
Harapan mewawancarai Balotelli sepertinya akan mudah. Apalagi, mantan pemain Inter Milan ini di laga terakhir penyisihan grup membuat gol yang indah ke gawang Irlandia. Suasana hati Balotelli pastinya sedang senang.
Para wartawan pun dengan percaya diri menyapa, ”Holla Mario” disusul sodoran alat perekam suara. Namun, belum sempat pertanyaan diajukan, Balotelli mendahului angkat suara. ”Tidak ada wawancara, tadi sudah di konferensi pers,” ujar Balotelli ketus dengan mimik cuek.
Mendengar jawaban itu, para jurnalis berusaha tetap tenang dan dengan ramah membujuk Balotelli untuk diwawancarai. Namun, penyerang klub Manchester City itu terus berjalan santai diikuti staf media tim nasional Italia. Balotelli juga cuma cengar-cengir melihat para wartawan yang terdiam dan hanya mengamati dirinya berlalu hingga menghilang di balik papan pembatas jalur jalan pemain.
Saat masih merasakan kekecewaan dengan sikap Balotelli, tiba-tiba terdengar bunyi besi yang beradu disusul suara kegaduhan dari balik papan pembatas jalur pemain. Para wartawan pun berlari melihat ke jalur sebelah. Ternyata Balotelli melompati pagar besi pembatas jalur jalan pemain. Ia tidak mau berjalan mengikuti jalur yang berkelok-kelok itu dan melompati pagar untuk menyingkat waktu keluar area mixed zone.
Balotelli berjalan santai dengan wajah tak acuh dikawal petugas dari UEFA yang menjaga mixed zone. Petugas itu tidak berani menegur Balotelli dan justru meminta foto serta tanda tangan. Bukan cuma di mixed zone, pada acara konferensi pers, Balotelli juga membuat jengkel para wartawan. Ia sering meminta pertanyaan diulang dengan alasan lupa pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya.
Balotelli juga disindir dengan pertanyaan mengapa dirinya tidak menjawab pertanyaan sedikit lebih panjang dan serius. ”Anda tidak banyak berbicara. Padahal, Anda berada di sini untuk berbicara, apakah ini bermakna sesuatu? Apakah ini berarti Anda tidak takut siapa pun, bahwa Anda bisa sangat penting dalam pertandingan, bahwa Anda berlimpah kepercayaan diri? Apakah ini bisa diartikan demikian?”
Balotelli menjawab dengan enteng, ”Saya di sini karena ini giliran saya berbicara.”
Bukan cuma Balotelli yang membuat kecewa jurnalis. Pemain bintang tim Perancis, Samir Nasri, bahkan sangat arogan meladeni wawancara wartawan, seusai kekalahan 0-2 Perancis dari Spanyol. Saat ditanya wartawan di mixed zone, Samir Nasri langsung bicara dengan nada tinggi. ”Kalian hanya mencari masalah,” ujarnya ketus sambil mengumpat dengan kata-kata kotor.
Sejumlah jurnalis yang mendengar itu membalas dengan berujar,” Pergi saja sana.” Namun, tanpa diduga Nasri kembali meladeni dengan umpatan kata-kata yang lebih kasar. Kata-kata yang sangat tidak pantas keluar dari mulut seorang pemain bintang lapangan. (REUTERS/OTW)
Seperti yang dialami belasan jurnalis peliput Piala Eropa, termasuk wartawan Kompas, Agung Setyahadi, ketika menunggu para pemain tim nasional Italia yang baru saja menyelesaikan latihan resmi, sehari menjelang laga perempat final melawan Inggris di mixed zone, Stadion Olimpiade Kiev, Ukraina, Sabtu (23/6). Mixed zone adalah area yang disediakan bagi para peliput bertemu atlet.
Setelah menunggu lebih dari 30 menit dari jadwal wawancara, para jurnalis melihat sosok striker muda Italia, Mario Balotelli, yang mengenakan kaus hitam berlengan buntung dan membawa tas kecil di tangan kanannya.
Harapan mewawancarai Balotelli sepertinya akan mudah. Apalagi, mantan pemain Inter Milan ini di laga terakhir penyisihan grup membuat gol yang indah ke gawang Irlandia. Suasana hati Balotelli pastinya sedang senang.
Para wartawan pun dengan percaya diri menyapa, ”Holla Mario” disusul sodoran alat perekam suara. Namun, belum sempat pertanyaan diajukan, Balotelli mendahului angkat suara. ”Tidak ada wawancara, tadi sudah di konferensi pers,” ujar Balotelli ketus dengan mimik cuek.
Mendengar jawaban itu, para jurnalis berusaha tetap tenang dan dengan ramah membujuk Balotelli untuk diwawancarai. Namun, penyerang klub Manchester City itu terus berjalan santai diikuti staf media tim nasional Italia. Balotelli juga cuma cengar-cengir melihat para wartawan yang terdiam dan hanya mengamati dirinya berlalu hingga menghilang di balik papan pembatas jalur jalan pemain.
Saat masih merasakan kekecewaan dengan sikap Balotelli, tiba-tiba terdengar bunyi besi yang beradu disusul suara kegaduhan dari balik papan pembatas jalur pemain. Para wartawan pun berlari melihat ke jalur sebelah. Ternyata Balotelli melompati pagar besi pembatas jalur jalan pemain. Ia tidak mau berjalan mengikuti jalur yang berkelok-kelok itu dan melompati pagar untuk menyingkat waktu keluar area mixed zone.
Balotelli berjalan santai dengan wajah tak acuh dikawal petugas dari UEFA yang menjaga mixed zone. Petugas itu tidak berani menegur Balotelli dan justru meminta foto serta tanda tangan. Bukan cuma di mixed zone, pada acara konferensi pers, Balotelli juga membuat jengkel para wartawan. Ia sering meminta pertanyaan diulang dengan alasan lupa pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya.
Balotelli juga disindir dengan pertanyaan mengapa dirinya tidak menjawab pertanyaan sedikit lebih panjang dan serius. ”Anda tidak banyak berbicara. Padahal, Anda berada di sini untuk berbicara, apakah ini bermakna sesuatu? Apakah ini berarti Anda tidak takut siapa pun, bahwa Anda bisa sangat penting dalam pertandingan, bahwa Anda berlimpah kepercayaan diri? Apakah ini bisa diartikan demikian?”
Balotelli menjawab dengan enteng, ”Saya di sini karena ini giliran saya berbicara.”
Bukan cuma Balotelli yang membuat kecewa jurnalis. Pemain bintang tim Perancis, Samir Nasri, bahkan sangat arogan meladeni wawancara wartawan, seusai kekalahan 0-2 Perancis dari Spanyol. Saat ditanya wartawan di mixed zone, Samir Nasri langsung bicara dengan nada tinggi. ”Kalian hanya mencari masalah,” ujarnya ketus sambil mengumpat dengan kata-kata kotor.
Sejumlah jurnalis yang mendengar itu membalas dengan berujar,” Pergi saja sana.” Namun, tanpa diduga Nasri kembali meladeni dengan umpatan kata-kata yang lebih kasar. Kata-kata yang sangat tidak pantas keluar dari mulut seorang pemain bintang lapangan. (REUTERS/OTW)
Kido/Hendra Kejar Peringkat Satu
JAKARTA, KOMPAS.com — Ganda putra veteran, Markis Kido-Hendra Setiawan, berharap bisa bersaing lagi dan mengincar peringkat satu dunia.
Ganda juara Olimpiade Beijing 2008 ini meraih gelar juara pada turnamen Super Series berhadiah 200.000 dollar AS pada Singapura Terbuka Super Series, Minggu (24/6/2012). Pasangan unggulan keempat itu mengalahkan unggulan kedua Ko Sung Hyun-Yoo Yeon Seong dari Korea Selatan 22-20, 11-21, 21-6 pada final di Singapore Indoor Stadium, Singapura, Minggu.
"Ini gelar juara yang sangat berarti karena saya masih bisa membuktikan bisa bersaing lagi dan siap ambil kembali ranking satu dunia," ujar Kido mengenai gelar keduanya tahun ini tersebut.
Kido-Hendra meraih gelar pertama di Australia Terbuka. Kemenangan tersebut membuat Kido-Hendra unggul 3-2 dalam rekor pertemuan dengan pasangan Korea tersebut.
Saat ini mereka menempati peringkat delapan dunia dan hanya satu tingkat di bawah ganda terkuat Indonesia saat ini, Bona Septano/Mohammad Ahsan. Ahsan/Bona yang menjadi wakil Indonesia di Olimpiade London gagal di semifinal setelah disingkirkan Ko/Yoo.
Ganda juara Olimpiade Beijing 2008 ini meraih gelar juara pada turnamen Super Series berhadiah 200.000 dollar AS pada Singapura Terbuka Super Series, Minggu (24/6/2012). Pasangan unggulan keempat itu mengalahkan unggulan kedua Ko Sung Hyun-Yoo Yeon Seong dari Korea Selatan 22-20, 11-21, 21-6 pada final di Singapore Indoor Stadium, Singapura, Minggu.
"Ini gelar juara yang sangat berarti karena saya masih bisa membuktikan bisa bersaing lagi dan siap ambil kembali ranking satu dunia," ujar Kido mengenai gelar keduanya tahun ini tersebut.
Kido-Hendra meraih gelar pertama di Australia Terbuka. Kemenangan tersebut membuat Kido-Hendra unggul 3-2 dalam rekor pertemuan dengan pasangan Korea tersebut.
Saat ini mereka menempati peringkat delapan dunia dan hanya satu tingkat di bawah ganda terkuat Indonesia saat ini, Bona Septano/Mohammad Ahsan. Ahsan/Bona yang menjadi wakil Indonesia di Olimpiade London gagal di semifinal setelah disingkirkan Ko/Yoo.
Pasangan Suami Istri Bunuh Anak Kandung
KOLAKA, KOMPAS.com — Kepolisian Sektor (Polsek) Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, menetapkan Yulius Paris (60) dan Martha (57) sebagai tersangka dalam kasus pembantaian Andarias Salti (26), yang tidak lain adalah anak kandung mereka, beberapa hari lalu di Desa Palambua. Penetapan tersangka kepada kedua orangtua tersebut setelah polisi melakukan pemeriksaan terhadap keduanya selama 30 jam.
Kepala Polsek Pomalaa Iptu Ahmad Troy menjelaskan, Yulius dan Martha mengakui perbuatannya yang menyewa preman untuk menghabisi nyawa anaknya. "Yulius dan istrinya mengaku kalau merekalah otak perencanaan dari kematian anak kandungnya. Didasari dengan sakit hati, dia (orang tua korban) menuliskan surat kepada salah seorang warga agar mencari preman yang bisa membunuh anaknya dengan imbalan uang sebesar Rp 5 juta. Ini direncanakan bersama istrinya. Hal ini juga diakui oleh ibu korban," ungkapnya, Senin (25/6/2012).
Troy juga menambahkan, hal ini dilakukan berdasarkan ketakutan orangtua terhadap anaknya. "Si anak ini itu kerap kali mengancam ayah dan ibunya untuk dibunuh, bahkan di rumahnya itu anak yang dibunuh ini terus berontak. Geram dengan tingkah anaknya yang sudah tidak bisa diatur itu, muncullah inisiatif agar dibunuh saja. Ini pengakuan dari ayah korban lho," tandasnya.
Sementara itu, Yulius yang merupakan ayah korban mengatakan, anaknya mengalami gangguan jiwa. "Andarias ini stres, Pak. Berapa kali mendaftar jadi polisi, tapi tidak lulus. Dia juga cari pekerjaan tapi tidak dapat, makan ya mengalami gangguan jiwa. Saya dengan istri dua kali mau dibunuh, tapi gagal. Tiap hari kerjanya mengancam terus, hancurkan barang-barang di rumah. Saya sudah tidak tahan dengan anak ini, Pak," tuturnya.
Lebih lanjut, Yulius menekankan, sebelum dibunuh, anaknya sempat diberikan racun. "Dulu di makanannya saya campurkan racun, tapi tidak berhasil. Saya lakukan ini karena takut juga, jangan sampai terbukti dia akan bunuh saya," tegasnya.
Selain itu, ibu korban hanya bisa menangis mengingat perbuatannya kepada anak kandungnya. Mereka berdua juga sempat menyampaikan rasa penyesalan yang mendalam. "Saya merasa menyesal dengan perbuatan saya. Pikiran saya sudah pendek karena anak itu hanya menyusahkan. Sangat menyesal sekali, Pak," tutup Yulius.
Kepala Polsek Pomalaa Iptu Ahmad Troy menjelaskan, Yulius dan Martha mengakui perbuatannya yang menyewa preman untuk menghabisi nyawa anaknya. "Yulius dan istrinya mengaku kalau merekalah otak perencanaan dari kematian anak kandungnya. Didasari dengan sakit hati, dia (orang tua korban) menuliskan surat kepada salah seorang warga agar mencari preman yang bisa membunuh anaknya dengan imbalan uang sebesar Rp 5 juta. Ini direncanakan bersama istrinya. Hal ini juga diakui oleh ibu korban," ungkapnya, Senin (25/6/2012).
Troy juga menambahkan, hal ini dilakukan berdasarkan ketakutan orangtua terhadap anaknya. "Si anak ini itu kerap kali mengancam ayah dan ibunya untuk dibunuh, bahkan di rumahnya itu anak yang dibunuh ini terus berontak. Geram dengan tingkah anaknya yang sudah tidak bisa diatur itu, muncullah inisiatif agar dibunuh saja. Ini pengakuan dari ayah korban lho," tandasnya.
Sementara itu, Yulius yang merupakan ayah korban mengatakan, anaknya mengalami gangguan jiwa. "Andarias ini stres, Pak. Berapa kali mendaftar jadi polisi, tapi tidak lulus. Dia juga cari pekerjaan tapi tidak dapat, makan ya mengalami gangguan jiwa. Saya dengan istri dua kali mau dibunuh, tapi gagal. Tiap hari kerjanya mengancam terus, hancurkan barang-barang di rumah. Saya sudah tidak tahan dengan anak ini, Pak," tuturnya.
Lebih lanjut, Yulius menekankan, sebelum dibunuh, anaknya sempat diberikan racun. "Dulu di makanannya saya campurkan racun, tapi tidak berhasil. Saya lakukan ini karena takut juga, jangan sampai terbukti dia akan bunuh saya," tegasnya.
Selain itu, ibu korban hanya bisa menangis mengingat perbuatannya kepada anak kandungnya. Mereka berdua juga sempat menyampaikan rasa penyesalan yang mendalam. "Saya merasa menyesal dengan perbuatan saya. Pikiran saya sudah pendek karena anak itu hanya menyusahkan. Sangat menyesal sekali, Pak," tutup Yulius.
Langganan:
Postingan (Atom)
